Antara Aku, Kau dan Hujan
Antara Aku, Kau dan Hujan
29 November 2017
(Wahlah luthfi )
Waktu itu
( 23 Juni 2015)
Siang
hari aku berdua dengan ayahku, nonton tv berdua dengannya. Tiba- tiba
handphonku berbunyi, tak disangka ia menelponku.. (orang yang mendekatku )
. Ia
menelpon dengan suara agak gemetar, “ Iloveyou” ungkapnya, dan aku tidak terlalu jelas mendengar kalimat
itu, lalu aku menyuruhnya untuk mengulanginya, dan akhirnya ia mengulangi
kata-katanya.
Waktu itu
hujan turun .. bertepatan dengan turunya hujan, aku menjawabnya. Namun sebelum
aku menjawab terdengar suara “ wawa, wawa….temenin aku nonton tv” lalu aku
bilang ke dia Maaf, ya aku dipanggil
ayahku dulu “ lanjutku ..
Esok
harinya aku bertemu dengannya disaat hujan turun dengan derasnya. Dari kejahuan aku melihatnya, tidak terlalu
jelas, namun aku meliha. jelas ia tersenyum padaku. dan menyapaku dengan
melambaikan tangganya.Saat hujan mereda, aku menengadahkan tangan terbuka,
merasakan percikan gerimis masih ada. Namun, saat aku mendongak, pemuda itu
berdiri di hadapanku dengan senyuman terukir di bibirnya.
"Suka hujan?" tanyanya dengan wajah yang sulit kuartikan.
"Eum, iya..." jawabku kikuk, aku memang suka hujan. Rintik-rintiknya menyejukkan hati. Meski kadang petir menyeramkan membuyarkan ketenangannya.
Setelah itu, dalam keadaan basah kuyup, ia menanyaiku banyak pertanyaan soal hujan. Entah kenapa, dia seolah sudah mengenalku lama sekali. Sorotan matanya, kerlingan nakalnya, deruan nafasnya, sampai sentuhan tangannya terasa familiar.
"Suka hujan?" tanyanya dengan wajah yang sulit kuartikan.
"Eum, iya..." jawabku kikuk, aku memang suka hujan. Rintik-rintiknya menyejukkan hati. Meski kadang petir menyeramkan membuyarkan ketenangannya.
Setelah itu, dalam keadaan basah kuyup, ia menanyaiku banyak pertanyaan soal hujan. Entah kenapa, dia seolah sudah mengenalku lama sekali. Sorotan matanya, kerlingan nakalnya, deruan nafasnya, sampai sentuhan tangannya terasa familiar.
Seminggu
setelahnya dia menelponku, dan menanyakan jawaban yang kemaren .. lalu aku
menjawab “ aku menyayangimu, seperti hujan yang mencintai bumi.. “ serius ? lanjut dia dengan senang
Dua tahun
kita dekat, dan saling menyayangi, dia snagat memanjakan aku.. dan menerima
semua kekurangku. Akupun senang dengan hari- hariku..
Hari ini (
29 november 2017 )
Aku menelpon
dia .. “ ada apa ? “ tanya dia dengan tergesa- gesa “ lalu aku menjawab.
Apakah kau
sibuk? “ aku sibuk jangan ganggu dulu, tugasku bnayak “ jawabnya.
Lalu aku
menjutkan untuk bertanya “ kenapa akhir2 ini kau cuwek banget sama aku ? kamu
tidak ada waktu buat aku ? “ dia menjwab “sudahlah wawa “
Akhirnya dia
menutup telponnya tanpa berpamitan . lalu . aku menlponnya lebih dari limapuluh kali
panggilan tidak dia angkat.. “ aku sudah capek dengan sikapmu, mengapa kau
tidak anfkat telponku, apakah kau sengaja ? tanyaku . ”ya aku sengaja” jawabnya
dengan nada sombong sekali. Waktu itu
hujan turun, aku menangis karena jawaban sakit yang aku erima darinya.
Aku merasa
hujan terus menemaniku, seperti dua tahun yang lalu.. aku mengingatnya. Mengingat
semua kebaikan dia ke aku, mengingat dia yang memanjakan aku, menginagat dia
yang menyayangi aku.. namun sakit hati yang aku rasa karena sikap dia kea ku,
akhirnya aku memutuskan untuk tidak lagi mengganggu dia, walaupun kenangan
selalu menghantuiku.. aku tidak ingin menjadi pengganggu dalam hidupnya..
Hari ini
hujan tetap menemaniku, aku terus mengingatnya.. 😓😓
Doaku pada
tuhan, agar aku mendapatkan orang baik yang bisa membuat aku tersenyum..
kamupun datang bersamaan dengan hujan. Namun aku lupa minta sama tuhan agar ada
seseorang yang bisa buat aku tersenyum selamanya bukan untuk sementara .
seperti hujan yang tanpa bosan menghujani bumi, seperti nafas yang membutuhkan
udara, seperti burung yang membtuhkan sarangya .
Komentar
Posting Komentar